Calon Guru yang Memilih Jadi Sprinter

“Gengsi itu gak bikin perut kenyang” hal tersebut yang dipegang oleh Marhayani Siregar, perempuan kelahiran 11 November 1989 yang juga merupakan sprinter kedua wanita di drop point Aceh. Yani sendiri merupakan lulusan sarjana pendidikan yang baru saja menuntaskan pendidikan nya tahun ini, namun kenapa Yani memilih sprinter sebagai profesinya?

Calon guru atau pendidik ini sempat mendapatkan tawaran menjadi guru di salah satu sekolah di Banda Aceh, namun dengan upah yang masih dinilai kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari hari Yani pun akhirnya memilih jalan lain untuk bekerja. Ya dengan menjadi Sprinter di J&T Express, perempuan yang memang sudah akrab dengan pekerjaan yang keras dan menyita tenaga ini pernah ikut Ayahnya sewaktu kecil untuk bekerja sebagai pekerja bangunan. “sejak kecil Yani sudah biasa ikut bapak kerja bangunan, jadi kayak dempul teralis, amplas, ngecat tembok dan lain lain sudah pernah. Jadi pekerjaan sprinter ini bukan hal baru dan berat buat Yani” ungkapnya dengan tawa.

Selain pendapatan yang saat ini lebih baik, Yani yang bergabung dengan keluarga J&T Express Banda Aceh sejak Agustus 2016 merasa nyaman dan mudah beradaptasi karena tim dan atasan yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan. Ketika merasa sulit dan bingung mengenai pekerjaan, Yani dapat langsung mengkomunikasikan kepada atasan serta segenap tim dan kemudian dapat langsung mendapatkan solusi maupun saran yang membangun.

“gak pernah merasa malu untuk melakukan pekerjaan ini asal nyaman, enak ngejalaninnya gak usah gengsi” ungkap Yani ketika ditanya oleh tim J&T Express apakah merasa malu jika Yani sarjana pendidikan namun bekerja sebagai kurir.  Sebuah jawaban yang sangat menginsipirasi bahwa apapun jenis pekerjaannya selama kita semangat dan sepenuh hati mengerjakannya maka akan selalu memberi dampak positif untuk diri kita sendiri ya JT friends :)